Cegah Plafon Rumah Runtuh Akibat Gempa dengan Hollow Baja Ringan

Rangka Plafon Rumah

Plafon rumah dibuat bukan hanya untuk menambah estetika interior tempat tinggal. Secara fungsional, bagian dari hunian ini pun memiliki beragam fungsi, di antaranya:

  • Melindungi bagian dalam rumah dari kebocoran secara langsung karena kerusakan atap, sehingga air hujan tertahan oleh plafon.
  • Meredam hawa panas dalam rumah.
  • Membantu ruangan menjadi lebih kedap suara.
  • Menjadi tempat diletakkannya soket lampu, dan lain sebagainya.

Berdasarkan fungsinya itu, berarti plafon merupakan salah satu bagian penting dari rumah. Apabila cara pemasangan, pemilihan material, serta faktor lainnya diabaikan, hal ini dapat meningkatkan risiko ambruk. Termasuk ketika terjadi bencana gempa.

Seperti gempa berkekuatan 5,1 magnitudo yang terjadi di Gunungkidul  pada Senin, 28 Juni 2021 lalu. Akibat peristiwa tersebut, plafon rumah salah satu warga di Padukuhan Sumur, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari runtuh seperti yang dikutip dari Liputan6.

Sang pemilik mengatakan, saat itu memang kondisi rumahnya sudah tua dan kemungkinan besar kayu penahan plafon sudah lapuk karena usia. Akibatnya, bagian tersebut roboh saat gempa di Gunungkidul terjadi.

Apa Penyebab Plafon Rumah Runtuh?

Tak selalu karena faktor usia bangunan. Terkadang meskipun baru didirikan atau direnovasi dan diganti material baru pun plafon masih berisiko ambruk apabila beberapa faktor berikut disepelekan.

  • Pemasangan Kurang Tepat

Demi menghemat pemakaian material dan biaya, sering kali pemilik bangunan memperlebar jarak rangka plafon dari standar. Padahal hal ini meningkatkan risiko ambruknya plafon. Di samping itu, sambungan yang kurang  sempurna juga penyebab rawan terjadi ambruk.

Begitu pula jika menggunakan bahan gypsum sebagai penutup. Pemasangan material yang tidak tepat, terlebih sambungannya tidak terpasang secara sempurna juga rentan ambruk.

  • Penyangga yang Kurang Kokoh

Rangka sebagai penyangga plafon (penutup) yang kurang kokoh juga meningkatkan risiko ambruk. Hal ini mengingat rangka tersebut sebagaian menahan beban dari plafon (penutup) serta rangka itu sendiri.

  • Sering Terkena Air

Terutama jika menggunakan gypsum sebagai plafon (penutup), material ini sebenarnya rentan jika terus terkena air.

Terlebih lagi jika atap sering bocor dan mengenai plafon gypsum. Meski awalnya biasa, namun seiring berjalannya waktu, hal tersebut akan menurunkan kualitas gypsum. Bahkan struktur plafon yang lembab akibat sering terkena air akan hancur dan berisiko ambruk.

Tips Mencegah Plafon Roboh Meskipun Terdampak Gempa dengan Hollow Baja Ringan

Rangka Plafon
Pemasangan Rangka Plafon (doc. KKA)

Hollow baja ringan adalah salah satu solusi untuk mengurangi dampak plafon ambruk meskipun terjadi gempa seperti di Gunungkidul.

Mengingat plafon juga merupakan bagian penting dari bangunan, selalu pastikan material rangka hollow terjamin kualitasnya. Seperti produk hollow baja ringan VIVO yang tak hanya berkualitas dengan jaminan SNI, juga dibanderol harga terjangkau.

Plafon
Rangka Plafon (doc. KKA)

Selain terkait rangka, beberapa tips berikut ini juga dapat diterapkan.

  • Pastikan pemasangan rangka plafon sudah tepat. Dimana jarak yang umum digunakan adalah 120 x 60cm. Begitu pula jika menggunakan plafon (penutup) gysum, pastikan sambungannya terpasang dengan benar.
  • Gunakan material penutup atap yang dapat mencegah bocor, terutama jika menggunakan plafon (penutup) berbahan gypsum yang rentan jika sering terkena air. Dalam hal ini, produk atap VIVO dapat menjadi pilihan. Tak hanya kokoh karena menggunakan material ZINIUM G550. Terdapat sistem overlapping yang saling mengunci rapat untuk mencegah kebocoran akibat hujan yang disertai angin.***
Cegah Plafon Rumah Runtuh Akibat Gempa dengan Hollow Baja Ringan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top